Formal betting platform_Indonesian Football_Blackjack calculator_Bodog Sports Platform_Baccarat Guide

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Kasino online manusia

DaFootball betting ruleslam bukunya A Cup of Tea, kini ia pun berusaFootball bettinFootball betting rulesg rulesha keras untuk meruntuhkan dinding yang telah lama ia dirikan. Membuka diri dan memperluas lingkar pertemanan dengan tetap menjadikan kebahagiaan berpusat pada dirinya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan melegakan. Kita tidak bisa benar-benar hidup sendiri, tapi kita juga butuh keberadaan orang lain.

Beberapa tahun lalu Gitasav pernah mengalami hal tidak menyenangkan yang membuat ia merasa bahwa semua orang membenci, membicarakan, dan mempermalukan dirinya. Kicauan lamanya di Twitter kembali diangkat oleh orang-orang yang tidak menyukai Gita. Ia mengaku bahwa dimasa remajanya ia pernah mengalami masalah personal yang membuatnya menjadi pribadi yang bisa dibilang tempramen. Namun waktu bisa mengubah siapapun yang ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Aktivitasnya sebagai mahasiswi di Jerman menjadikan Gita pribadi yang kaku dan tidak mengerti cara berinteraksi asyik dengan orang lain. Lingkungan orang Jerman yang dingin dan individualis memperparah hal tersebut. Melalui Program Erasmus+ yang ia ikuti di tahun 2016 silam, rupanya menjadi cara Gita memperbaiki kemampuan bersosialisasinya. Tinggal satu rumah bersama 30 peserta lain membuat dirinya harus berinteraksi selama 9 hari dari pagi sampai malam.

Sekarang kamu sudah tahu, banyak pelajaran hidup yang Gitasav dapatkan selama perjalanannya menjadi mahasiswi di Jerman. Kalau kamu merasa minder dengan dirimu saat ini, bangkitlah dan hadapi rasa takut yang harus kamu lewati untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik lagi. Banyak hal yang bisa kita pelajari dan renungkan, termasuk cara kita memandang masalah yang dihadapi.

Sebagai mahasiswi Jerman, prinsip yang Gita anut pada saat itu adalah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ia sangat memprioritaskan belajar dan mengurangi jalan-jalan. Selama kuliah, setiap hari ia bisa belajar minimal 6 jam dan menggunakan akhir pekannya sebagian besar untuk belajar.

Segala kekesalan tersebut terus memuncak hingga ia memutuskan untuk tidak peduli pada apa yang ia khawatirkan. Ia melawan semua rasa takut dengan fokus pada hal-hal yang membuatnya merasa nyaman, seperti keluar rumah tanpa dandan, berkerudung tanpa cepolan rambut yang seringkali membuatnya kesulitan saat melakukan perjalanan. Ia mengubah cara berpikir dan fokus pada hal-hal esensial dalam hidupnya. Kini Gita merasa waktu dan energinya bisa terinvestasikan lebih baik lagi.

Awal kehidupan di Jerman berbekal pengalaman hidup di Indonesia termasuk cerita patah hati untuk pertama kalinya membuat Gita selalu ingin membangun dinding pembatas dengan orang lain. Bukan karena tidak menyukainya, namun menghindari kekecewaan akibat bergantung pada mereka. Tidak terasa, pada akhirnya ia berhasil membuat jarak dan menjadikannya pribadi yang kaku dan tidak mudah bersosialisasi.

Ia pun mengaku lima tahun bergelut dengan drama akademis di Jerman telah membuatnya lelah. Kuliah menjadi pengalaman yang cukup membuatnya trauma karena tidak tahu caranya bahagia. Kini Gita memandang bahwa mencari keseimbangan antara kehidupan akademis dan aktivitas pengembangan diri itu sangatlah penting.

Tidak tutup telinga, apa yang dikatakan warganet ternyata memengaruhi psikologis Gita. Ia sempat merasa bahwa usahanya untuk berubah disembilan tahun terakhir adalah sia-sia. Hingga datang sebuah kejadian yang membuat ia sadar. Meski ada beribu orang yang membencinya saat itu, tapi masih ada segelintir orang yang peduli.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Siapa bilang kehidupan influencer lulusan Kimia Murni Freie Universität Berlin ini tanpa drama? Sebagai YouTuber yang mulai dikenal publik sejak video studi di Jermannya tahun 2016 silam, pemilik nama asli Gita Savitri Devi ini nyatanya memiliki cerita hidup yang tidak sederhana. Seperti manusia pada umumnya, jatuh bangun perjalanan Gita mengantarkan ia pada pemaknaan hidup yang lebih baik.

Gita pun akhirnya memahami bahwa satu-satunya orang yang mengenal dirinya adalah dirinya sendiri, ialah yang mengerti perasaan yang ia rasakan, dan menyadari bahwa seharusnya bukan penilaian orang lain yang menentukan atau mengendalikan dirinya tapi dirinya sendiri yang berhak atas itu.

Saat ini Gita percaya bahwa kemampuan bersosialisasi memang harus dilatih karena itu penting bagi kehidupan sosial.

Tidak hanya itu, ia pun mulai aktif mengikuti berbagai pertemuan yang mewajibkan dirinya memulai percakapan. Sangat melelahkan memang bagi Gita yang introver dan pemalu, namun itu menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kekurangannya.

Siapa sangka, beberapa tahun setelahnya ia pun menyadari bahwa keputusannya membangun dinding dengan orang lain selama ini tidak tepat. Sekeras apapun usaha Gita untuk tidak bergantung, ia tetaplah manusia, makhluk sosial. Ia pun mengaku bahwa sulit bertahan hidup dengan benar-benar sendiri tanpa bantuan orang lain. At some point in our lives we have to deal with human beings whether we like it or not (Gitasav).

Banyak dari kita yang takut tidak dinilai sempurna oleh orang lain. Pun Gita pernah mengalami hal serupa. Tidak percaya diri saat keluar rumah tanpa dandan atau selalu memikirkan penilaian orang lain tentang penampilannya. Ia sempat merasa kesal dengan dirinya sendiri yang selalu ingin terlihat sempurna namun di balik 'kesempurnaan kata orang tersebut' ia mengabaikan kenyamanannya. 

Tidak salah memang, namun jika hanya fokus pada perkuliahan dan mengabaikan lingkungan sekitar dengan tidak berorganisasi atau memperluas lingkar pertemanan pada akhirnya ia menyadari telah kehilangan kesempatan untuk mengasah soft skills yang akan berguna untuk masa depan.

Apa saja hikmah yang bisa kita ambil dari kehidupan Gitasav?